Blog

Bicara soal gelombang kopi,  kita bicara soal inovasi. Sadar tidak sadar, selalu ada sesuatu yang kita bawa dan kembangkan dari gelombang-gelombang sebelumnya. Inovasi-inovasi, yang tanpanya tidak akan ada third wave dan kopi-kopi yang kita nikmati saat ini.

Istilah ‘gelombang’ dalam dunia kopi pertama kali muncul pada tahun 2002. Pemilik kedai Wrecking Ball Coffee di San Fransisco, Trish Rothgeb lah yang pertama mengenalkan istilah ini. Dimulai dari third wave, ia merunut ke belakang periode perkembangan industri kopi dalam tiga gelombang.

Gelombang Pertama: Minuman Milik Semua Orang

  • Kopi Kaleng
  • Bungkus Kedap Udara
  • Kopi Saset

Apa yang memulainya?

Cara pembuatan kopi yang rumit.

Sebelum era kopi instan, ritual membuat kopi mirip dengan cara-cara yang populer di kalangan pecinta kopi ‘serius’ saat ini. Hari-hari itu, membuat kopi berarti memanggang dan menggiling biji kopi sendiri di rumah masing-masing, Kopi adalah minuman rumahan, meski bukan di rumah semua orang.

Dalam bukunya, Ruth menjelaskan bahwa salah satu penyebab maraknya produksi kopi cepat saji adalah harga biji kopi yang melambung akibat inflasi. Sementara konsumen enggan untuk membayar lebih, kopi cepat saji memberikan jaminan asupan kafein dengan harga lebih murah.

Berkat ide para pengusaha,  posisi kopi bergeser dari komoditi eksotis yang perlu persiapan ‘serius’ menjadi komoditi cepat saji. Ensiklopedia singkat sejarah kopi Coffee Nerd: How to Have Your Coffee and Drink It Too (2015) mencatat, periode ini berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga tahun 1960-an. Karena penyajiannya yang mudah, kopi instan lalu menjadi bagian dari keseharian para tentara AS di kala Perang Dunia II. Sesudah perang, tentara-tentara ini tak bisa hidup tanpa kopi.

Di era ini, perusahaan besar seperti Maxwell House dan Folgers mulai mendapatkan keuntungan besar karena penjualan kopi cepat saji meningkat. Untuk pertama kalinya, kopi dijual dengan harga murah dan mudah dibuat di rumah tanpa persiapan rumit.

Di sini, mulai muncul inovasi-inovasi seperti kopi saset yang dibungkus dengan kemasan bervakum. Bradford Lowry berpendapat, meski gelombang pertama dikritik karena mengorbankan rasa dan kualitas, namun inovasinya membuat industri kopi dapat berkembang seperti saat ini.

Gelombang Kedua: Minuman Sosial

  • Specialty coffee
  • Starbucks
  • Ngopi di kafe
  • Populernya espresso, french press, latte

Apa yang memulainya?

Pecinta kopi rindu rasa kopi enak.

Menurut Ruth, era ini baru benar-benar dimulai pada tahun 1970-an. Di tengah popularitas kopi instan, diam-diam para pelaku industri kopi menyayangkan harga yang harus dibayar: rasa kopi yang ‘buruk’ demi konsumsi massal. Para roaster independen dan berkualitas tinggi pun mulai bermunculan menjawab kegelisahan akan kualitas kopi di pasaran. Erna Knutsen pun mulai mengenalkan istilah Specialty Coffee dalam industri kopi pada tahun 1974 yang kemudian diadaptasi oleh organisasi Specialty Coffee Association of America pada tahun 1982.

Menurut buku Coffee Nerds, salah satu roaster paling penting di era ini adalah Peet’s Coffee & Tea yang pertama kali dibuka pada tahun 1966 di Berkeley, California. Alfred Peet yang memiliki latar belakang ayah seorang pemilik bisnis pemanggangan kopi di Belanda mulai memperkenalkan biji kopi berkualitas dengan karakter panggang dark roast.

Di tempat pemanggangan inilah trio Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker belajar seni memanggang kopi dan membawa bekal ilmunya kembali ke Seattle untuk membuka tempat penjualan biji kopi, Starbucks. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi Starbucks sebelum menjadi gerai kopi waralaba multinasional seperti sekarang.

Namun semenjak kemunculannya, gerai kopi serupa kian menjamur di berbagai belahan dunia sehingga menggeser kebiasaan ngopi di rumah. Hal ini membuat kopi diasosiasikan dengan aktivitas bersosialisasi. Orang-orang lebih memilih keluar rumah dan menikmati kopi hasil karya tangan barista bersama dengan teman-teman.

Identiknya ngopi-ngopi dengan nongkrong di luar pun meredup dengan datangnya gelombang ketiga.